Kebangkitan AC Milan Serie A, Rossoneri Puncaki Liga Italia

Kebangkitan AC Milan Serie A, Rossoneri Puncaki Liga Italia
Kebangkitan AC Milan Serie A, Rossoneri Puncaki Liga Italia

AC Milan Serie A – Kebangkitan AC Milan Serie A terlihat nyata dengan bertenggernya Rossoneri pada puncak klasemen Liga Italia. Bagi sebagian besar penggemar sepak bola zaman sekarang. Nama AC Milan mungkin tidak memiliki banyak status dan prestise sepak bola modern.

Berbeda halnya dengan mereka yang telah mengikuti klub ini selama lebih dari satu dekade. Pastinya akan mengakui dengan bahwa raksasa Italia sempat jatuh jauh dari kejayaan mereka dulu. Sedikit mengingat ke belakang antara tahun 1980-an dan 90-an. Rossoneri merupakan kekuatan yang harus siapa pun lawannya perhitungkan.

Tim AC Milan bukan hanya tim terbaik bagi klub-klub Italia, tetapi kemampuan mereka mendapat pengakuan dunia sebagai yang terbaik. Mereka dahulu berkembang pesat di bawah manajemen dua nama besar calcio, Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Serta memperoleh keuntungan atas dukungan taipan media Silvio Berlusconi.

Perjalanan Kebangkitan AC Milan Serie A, Jatuh Bangun Favorit Italia

Berbicara kebangkitan AC Milan Serie A tidak bisa melupakan sang legenda klub Paolo Madini. Setelah era keemasan nyaris berakhir dan sejumlah pemain kunci pensiun. Maldini lantas mengambil alih posisi kapten klub pada tahun 1997. Klub sempat hancur bahkan menyerah akibat banyak kegagalan hingga akhirnya mereka mampu melewatinya.

Pada awal abad tahun 2000-an AC Milan mampu mendapatkan kembali kesuksesan baru bersama manajer Carlo Ancelotti. Selama dekade ini Milan dipimpin kapten Maldini berhasil mencapai tiga final Liga Champions. Penampilan domestik klub juga tidak terlalu buruk karena mampu merebut Coppa Italia pada tahun 2003, Supercoppa Italiana dan Scudetto pada tahun 2004.

Baca Juga: Prediksi Freiburg Vs Bayern Munchen 2 April 2022 Liga Jerman

Terlepas dari kesuksesan baru Milan, klub justru terperosok dalam masalah hukum. Yakni dugaan keterlibatan skandal Calciopoli pada tahun 2006. Menjadikan klub memasuki periode penuh perjuangan keuangan. Menyebabkan kepergian dua anggota integral, manajer Ancelotti ke Chelsea dan Kaka pemenang Ballon d’Or ke Real Madrid setahun setelahnya.

Kesedihan bertambah dengan pensiunnya legenda klub Paolo Maldini. Alhasil klub mengakhiri periode paling sukses yang membuat mereka mengangkat Scudetto ke-18. Sekaligus menjadi yang terakhir pada musim 2010-11.

Baca Juga: Prediksi Celta Vigo Vs Real Madrid 2 April 2022 Liga Spanyol

Mario Balotelli beraksi untuk kejatuhan AC Milan pada 2013. Lantaran muncul pertanyaan, peristiwa apa yang menyebabkan jatuhnya Rossoneri? Untuk memahami hal ini, pembaca harus menelusuri perjalanan musim 2012-13. Salah satunya catatan tentang kepergian striker bintang Zlatan Ibrahimovic dan bek senior Thiago Silva ke PSG.

Kepergian Ibrahimovic dan Thiago Silva membuat kinerja tim menurun. Sekaligus menyebabkan klub gagal lolos ke kompetisi Eropa selama empat tahun. Tidak tanggung-tanggung mereka juga gagal ke Liga Europa selama lima tahun.

AC Milan Belajar dari Manajemen Keuangan yang Tidak Kompeten

Dewan tidak kompeten dengan perekrutan buruk dan menghabiskan sumber daya keuangan yang sejatinya terbatas. Berusaha mengabaikan periode yang sama dengan kepergian Andrea Pirlo. Serta penjualan pemain-pemain hebat layaknya Stephan El Sharrawy dan Mario Balotelli.

Keputusan ini menyebabkan berulangnya pola pengangkatan dan pemberhentian sejumlah manajer. Daftar legenda klub seperti Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, dan Gennaro Gattuso masih gagal membawa Milan kembali ke puncak Italia dan dunia. Kegagalan selama bertahun-tahun, membuat klub berulang kali melewatkan kompetisi Eropa dan tampil buruk selama lebih dari satu dekade.

Baca Juga: Prediksi Lazio Vs Sassuolo 2 April 2022 Liga Italia

Manajemen keuangan yang buruk dikombinasi sumber daya tidak capable. Menunjukkan manajemen tidak kompeten kala melakukan rekrutmen. Hal ini membuat AC Milan tidak mampu menutup jurang pemisah antara mereka dan Juventus yang dominan. Nyonya tua mengambil alih dengan memenangkan sembilan gelar Serie A berturut-turut.

Gelombang mulai bergeser berkat legenda klub Paolo Maldini pada musim panas 2019 menjabat sebagai direktur teknis klub yang baru. Maldini mulai mengawasi operasi, manajemen, kebijakan rekrutmen, akuisisi baru dan keberangkatan. Manajer Marco Giampaolo terdepak tiga bulan setelah memulai musim 2019-2020 yang buruk/ Giampaolo digantikan oleh Stefano Piolo pada Oktober 2019.

Manajemen Baru Harapan Masa Depan Cerah Bagi Rossoneri

Bersama manajemen baru AC Milan menggambarkan tim ambisius yang ingin bersaing dengan kompetitif. Memanfaatkan permainan modern melalui visi Pioli tentang sepak bola menyerang. Manajemen baru sudah lebih stabil dan kompeten dalam penggunaan sumber daya yang bijaksana.

AC Milan juga menghindari pengeluaran keungan yang condong pada pemborosan. Konstruksi tim dimulai dengan rekrutmen baru sebagai dasar  menyesuai ideologi Italia. Awal musim 2021-2022 membuat skuad yang  lapar lebih termotivasi untuk membuktikan poin sempurna.

Kini klin memiliki tambahan daya yang signifikan dengan kehadiran Mike Maignan dari Lille, Fikayo Tomori dan Olivier Giroud dari Chelsea, Sandro Tonali dari Brescia, dan Brahim Diaz dengan kontrak dua tahun. Mereka memperkuat pertahanan dan lini tengah dengan tujuan untuk bersaing memperebutkan Scudetto.

AC Milan memulai kampanye Serie A dengan kemenangan satu gol di Sampdoria. Kemudian diikuti kemenangan kandang berturut-turut melawan Cagliari dan Lazio. Mereka mendorong penampilan unggul pada bulan-bulan berikutnya. Membuat tim mengumpulkan 12 pertandingan tak terkalahkan secara beruntun.***

Prediksi Bola Terkini

PREDIKSI BOLA | SKOR BOLA | JADWAL BOLA | BERITA BOLA

Mungkin Anda Menyukai