Viral Piala Dunia 2022, Polisi Qatar Amankan Aktivis LGBT

Viral Piala Dunia 2022, Polisi Qatar Amankan Aktivis LGBT

Viral Piala Dunia 2022, Polisi Qatar Amankan Aktivis LGBT

Viral Piala Dunia 2022, Polisi Qatar Amankan Aktivis LGBT
Viral Piala Dunia 2022, Polisi Qatar Amankan Aktivis LGBT

Berita Terbaru Sepak Bola –  Viral Piala Dunia 2022 seorang aktivis bernama Peter Tatchell ditangkap karena melakukan protes terhadap rezim anti-gay Qatar menjelang World Cup.

Menurut media lokal, protes Tatchell adalah pertama terjadi pada negara teluk yang sangat religius.

Aktivis Inggris itu menggelar protes damai langsung ke Qatar untuk menyoroti hak asasi manusia yang buruk sekaligus menderitanya kaum pecinta sesama jenis.

Peter Tatchell mengenakan t-shirt bertuliskan #QatarAntiGay. Bukan hanya itu, ia juga menampilkan plakat putih bertuliskan Qatar arrests, jails & subyek LGBTs to conversion.

Tuntutan dari protes damainya menyoroti aktivitas homoseksual dan hubungan sesama jenis yang masih ilegal bagi masyarakat Qatar.

Hukuman yang berlaku pada negara tersebut akan menghadapi hukuman mati jika terbukti melakukan hubungan sesama jenis.

Viral Piala Dunia 2022, Pengunjung Khawatir Terjadi Tindakan Homofobia

Aksi viral Piala Dunia 2022 yang menghebohkan dunia atas tindakan seorang Peter Tatchell.

Sejatinya keputusan untuk memberikan Qatar Piala Dunia FIFA pada tahun 2010 sudah merupakan keputusan yang sangat kontroversial.

Mengingat besarnya masalah hak asasi manusia terhadap pekerja migran dan kaum pecinta sesama jenis menjadi perhatian utama.

Tatchell mengumumkan bahwa ia telah ditangkap oleh pihak berwenang tetapi kemudian bebas.

“Protes #LGBT+ pertama sedang berlangsung dari #Qatar. @PeterTatchell berada di luar Museum Nasional di #Doha. Tuan rumah Piala Dunia adalah homofobia #QatarAntiGay. QatarAntiGay.com” tulis sang aktivis melalui media sosial Instagram pribadinya @PeterTatchell.

Baca Juga: Update Serie A Italia, Frattesi Antarkan Kemenangan Kandang

Aktivis asal Inggris itu menuliskan bila ia telah polisi Qatar bebaskan paska penangkapan akibat Peter Tatchell melakukan protes.

Tak berhenti menyampaikan akspirasinya, Tatchell menyinggung pihak FIFA agar mau memberikan perlindungan bagi kaum LGBT sehingga bebas dari ancaman penjara dan eksekusi mati.

“Saya telah dibebaskan oleh polisi #Qatar setelah melakukan protes LGBT+ pertama pada negara Teluk yang homofobia. @FIFAcom memberikan #WorldCup ke Qatar yang mana LGBT dapat terpenjara dan tereksekusi. #QatarAntiGay,” lanjutnya menuliskan pendapat @PeterTatchell.

Baca Juga: Hector Bellerin Barcelona, Disarankan Pensiun dan Menjadi Model

Tatchell telah merilis pernyataan yang menjelaskan tindakannya. Ia merasa tidak benar secara moral untuk menjadi tuan rumah turnamen sebesar itu dari Qatar.

Karena negara tersebut sedang mencoba untuk mengambil bagian dalam Sportswashing.

Pro dan Kontra Qatar Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Menurut Peter Tatchell tidak ada hubungan olahraga yang normal dengan rezim tidak normal seperti Qatar. Ia juga menggambarkan Qatar penuh dengan kediktatoran homofobia, seksis dan rasis. “Qatar tidak bisa dibiarkan mencuci reputasinya menggunakan Piala Dunia untuk meningkatkan citra internasionalnya,” ujar Peter Tatchell dalam sebuah wawancara.

Tatchell melakukan protes untuk menyoroti pelanggaran hak asasi manusia Qatar terhadap orang-orang LGBT+, perempuan, pekerja migran, dan warga Qatar liberal. Ia terbuka mengatakan mendukung perjuangan berani mereka melawan tirani.

Qatar membantah telah menangkap pemrotes berusia 70 tahun, sesaat Tatchell merilis pernyataan lain. “Saya dan seorang kolega polisi tahan dan dinas keamanan negara selama 49 menit. Foto dan video protes pada ponsel oleh polisi hapus dan para tahanan tidak mendapatkan izin pergi,” tulis pernyataannya.

Tidak Kapok, Aktivis Inggris Tetap Suarakan Pendapatnya

Polisi Qatar menginterogasi tentang perjalanan Peter Tatchell. Kemudian aktivisi tersebut bersama rombongannya mengetahui bahwa mereka harus berada dalam penerbangan lanjutan ke Sydney.

Ia juga menyayangkan reaksi pemerintah Qatar yang mencoba mengalihkan perhatian dari pelanggaran hak asasi manusia kejam dengan salah.

Tachell sendiri menggambarkan tindakannya sebagai seorang pemrotes yang damai.

Peter Tatchell pernah tertangkap karena insiden serupa pada 2018 dari Moskow sesaat sebelum Piala Dunia FIFA Rusia berlangsung.

Terakhir kali kabar dari media sosial Peter Tatchell, ia telah mendarat di Sydney dan mengucapkan terima kasih atas semua dukungan setelah protes dan drama penangkapan polisi Qatar.***